
VeHealth - Gejala khas seperti keputihan yang berbau dan
berwarna, atau adanya iritasi pada leher rahim dapat menjadi indikasi
dari infeksi leher rahim. Namun dalam beberapa kasus, infeksi leher
rahim dapat terjadi tanpa gejala yang dapat dirasakan oleh penderita.
Infeksi leher rahim terjadi akibat dari munculnya virus, bakteri, atau
organisme lain dalam leher rahim. Memang pada umumnya, infeksi ini
terjadi akibat dari penyakit seksual menular (PMS), tapi infeksi leher
rahim juga dapat terjadi pada orang-orang yang tidak aktif dalam
hubungan seksual.
Kurang menjaga kebersihan, penggunaan produk kewanitaan dan lainnya,
disinyalir menjadi salah satu penyebab infeksi saluran rahim, demikian
yang dilansir Wisegeek.
Jika Anda sudah terkena infeksi leher rahim, maka Anda harus
berkonsultasi pada dokter. Perawatan yang tepat dapat menghindarkan
Anda dari komplikasi penyakit seperti peradangan pada panggul,
menganggu kesuburan, sulit melahirkan, menularkan infeksi pada bayi
baru lahir, dan yang terburuk dapat mengakibatkan kanker serviks.
Pengobatan untuk tiap-tiap individu dengan infeksi akan berbeda-beda, tergantung pada kondisi tubuh saat pemeriksaan.
“Pertama-tama, dokter akan melakukan pemeriksaan panggul rutin dan
menanyai Anda mengenai gejala yang mungkin Anda alami. Jika dokter
merasa kelainan Anda cukup berat, dia akan merujuk Anda ke ginekolog
untuk mendapatkan penyelidikan dan pemeriksaan lebih lanjut, yang
mungkin meliputi USG rahim, histeroskopi, atau laparoskopi,” demikian ungkap pakar parenting dr. Miriam Stoppard dalam bukunya berjudul Panduan Kesehatan Keluarga. (ka)

VeHealth - Kanker leher rahim dan payudara paling banyak dialami
wanita. Untungnya, kanker leher rahim sebagian besar dapat dicegah
jika wanita melakukan pemeriksaan apus leher rahim atau pap smear secara teratur.
Pap smear
yang dijalani secara teratur dapat menemukan
perubahan dini pra-kanker, yang dapat segera ditangani sehingga kanker
tidak akan berkembang. Pasalnya, kanker leher rahim (serviks) termasuk
salah satu kanker yang bisa dikendalikan secara positif.
Dalam bukunya berjudul Panduan Kesehatan Keluarga, pakar parenting asal Inggris, dr. Miriam Stoppard mengatakan bahwa pap smear
serviks harus dijalani oleh semua wanita setelah mereka mulai
berhubungan seksual dan selanjutnya setiap tiga tahun hingga usia 65
tahun.
“Pemeriksaan ini juga penting bagi wanita yang telah terinfeksi HPV (Human Pappiloma Virus). Pap smear juga bisa menemukan penyakit menular seksual. Seorang wanita seharusnya menjalani pap smear serviks dalam waktu setahun sejak ulang tahun ke-20,” ungkap dr. Miriam.
Pap smear
serviks dapat dilakukan oleh dokter umum, klinik kesehatan wanita, atau klinik KB. Apabila ingin pap smear, Anda tidak boleh menstruasi atau bersanggama dalam waktu 24 jam, karena darah atau semen bisa membuat hasil pap smear sulit diandalkan. Idealnya, Anda berada dalam pertengahan siklus menstruasi agar mendapatkan hasil pap smear yang terbaik
Memang, hampir semua wanita merasa cemas jika menjalani pap smear.
Namun jangan khawatir, prosedur ini sangat cepat. Anda hanya berbaring
telentang dengan kedua lutut ditekuk. Sebuah spekulum hangat akan
dimasukkan ke dalam vagina, agar dokter dapat melihat rahim Anda.
Sebuah spatula kayu diusapkan pada leher rahim untuk memperoleh sel,
kemudian diapuskan pada kaca objek dan dikirimkan ke laboratorium.
“Keseluruhan tes memakan waktu kurang dari satu menit, dan walaupun
terasa tidak nyaman, Anda tidak merasakan nyeri. Hasil pemeriksaan akan
diperoleh dalam waktu enam pekan,” kata dr. Miriam.
Hasil pap smear sendiri akan digolongkan menjadi tiga kategori yaitu:
- Negatif,
berati tidak ada kelainan
- Displasia Ringan
atau CIN I, berarti Anda terinfeksi dan harus menjalani skrining lebih sering.
- Positif,
walaupun tidak selalu berarti kanker, berarti ditemukan perubahan sel yang memerlukan penyelidikan lebih lanjut.
Walaupun ada fakta bahwa perubahan pra-kanker dapat ditemukan dengan pap smear
teratur dan ditangani, setiap tahun sekira 25 persen wanita menderita
kanker leher rahim meninggal. Biasanya, mereka tidak pernah menjalani
tes apus (pap smear).
“Karena kondisi ini tidak menimbulkan gejala peringatan sejak awal,
maka kelainan ini baru akan terdeteksi dengan skrining rutin
pemeriksaan apus serviks. Para wanita tidak boleh mengabaikan hal ini,”
tutupnya (ka)