VeHealth.com - Sebuah penelitian menunjukkan bahwa pria
lebih suka dengan ciuman yang 'basah', sementara wanita lebih memilih
menahan ciuman selama mungkin. Hasilnya, ciuman lebih seperti 'tabrakan'
semangat antara keduanya, dibandingkan dengan pertemuan dua jiwa.
"Wanita menggunakan ciuman untuk membuat ikatan dengan pasangan.
Sementara pria menggunakannya sebagai pembuka. Tentu saja, penutupnya
adalah seks," kata Susan Hughes, seorang psikolog di Albright College di
Pennsylvania.
"Pria mencium hanya untuk meningkatkan gairah pasangannya," tambahnya, seperti dilansir oleh Times of India (04/09).
Hughes dan rekannya melakukan penelitian pada 1.000 pria dan
wanita saat melakukan hubungan seksual. Mereka diminta menilai dan
memberikan pendapat mengenai ciuman yang mereka lakukan. Hasilnya menunjukkan bahwa baik pria maupun wanita melihat ciuman
sebagai interaksi yang penting dan sangat intim. Mereka menggunakan
ciuman untuk melihat kecocokan mereka dengan pasangan. Pria juga diketahui lebih menyukai ciuman yang basah. Sementara wanita tak begitu suka dengan ciuman yang terlalu basah.
Psikolog mengatakan bahwa bagi pria banyaknya saliva yang
terlibat saat berciuman menunjukkan seberapa intim ciuman yang sedang
dilakukan.
Sementara itu, karena wanita menganggap ciuman sebagai cara
mereka membangun ikatan dengan pasangan, maka wanita cenderung menyukai
ciuman yang lama dan penuh perasaan.(ka)
VeHealth.com - Kementerian Pendidikan Nasional meluncurkan Program Pendidikan Kesehatan Reproduksi untuk Remaja Tunanetra dan Tunarungu.Program
yang ditujukan bagi peserta didik sekolah menengah pertama luar biasa A
(tunanetra) dan B (tunarungu) ini memanfaatkan media komputer dan buku digital.
Pendidikan kesehatan reproduksi diajarkan lewat MAJU (Media Kesehatan
Reproduksi Remaja Tunarungu) dan Langkah Pastiku! untuk remaja
Tunanetra.Pengembangan Modul MAJU dan Langkah Pastiku!
dilatarbelakangi oleh pandangan bahwa remaja tunarungu dan tunanetra
memiliki hak yang sama dengan remaja lainnya untuk mendapatkan akses
informasi dan layanan kesehatan reproduksi.Pendidikan tersebut
dapat membekali para remaja dari resiko pelecehan dan kekerasan seksual,
kehamilan yang tidak diinginkan. Selain itu untuk mencegah penyakit
menular seksual dan HIV/AIDS.
Menteri Pendidikan Nasional Mohammad
Nuh di Jakarta, Rabu (29/9), dalam sambutan mendorong supaya di setiap
sekolah dan lembaga ada tempat penyuluhan mengenai pentingnya kesehatan
reproduksi.
"Pemerintah dan kita semua memiliki kewajiban untuk
memberikan layanan dan pengetahuan tentang pentingnya kesehatan
reproduksi itu pada anak-anak kita," kata Nuh.
Sekretaris Jenderal
Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian
Pendidikan Nasional Bambang Indriyanto mengatakan, pendidikan kesehatan
reproduksi ini merupakan salah satu aktualisasi pendidikan
nondiskriminatif.Lewat pendidikan ini, anak-anak yang memiliki
keterbatasan mendapatkan haknya untuk mengetahui informasi yang benar
soal kesehatan reproduksi.
Sampai saat ini, program telah
diimplementasikan di sebanyak 72 SMP Luar Biasa dan Sekolah Menengah
Luar Biasa yang melayani siswa tunanetra dan tunarungu di delapan
provinsi yaitu DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur,
DIY, Bali, NTB.
Adapun media pembelajaran yang dikembangkan
meliputi modul cetak dan braille, modul training untuk guru dan master
trainer, boneka kesehatan reproduksi, celemek kesehatan reproduksi,
kamus bahasa isyarat kesehatan reproduksi berbentuk cetak dan CD. (ka)
Sumber: kompas.com