VeHealth.com - Ketika berencana memiliki anak dan melahirkan secara normal, banyak
wanita yang masih tak mengetahui kapan masa suburnya dan kapan waktu
yang tepat untuk melakukan pembuahan agar bisa langsung 'gol'.
Mereka pun berbondong-bondong mendatangi klinik kesuburan atau menemui dokter untuk mencari tahu tentang hal itu.
Fakta
ini ditemukan oleh sejumlah peneliti dari Monash University di
Melbourne setelah menyurvei 204 pasien wanita di dua klinik assisted reproductive technology (ART) di Melbourne.
Ternyata
hanya 13 persen pasien yang mengetahui kapan masa suburnya, meski 68
persen pasien mengaku telah menghitung waktu bercintanya secara akurat
dan 87 persen pasien mengaku telah melakukan berbagai cara untuk
menambah wawasannya tentang kesuburan.
"Studi ini menemukan bahwa
sebagian besar wanita yang mencari bantuan dari klinik kesuburan atau
dokter tak punya pengetahuan yang memadai tentang kapan waktu yang tepat
untuk bercinta agar dapat mengoptimalkan konsepsi
(fertilisasi/pembuahan) alami," ungkap Kerry Hampton yang memimpin studi
ini.
"Padahal waktu bercinta yang akurat saat memasuki masa
subur dapat mengurangi lamanya waktu yang diperlukan untuk mendapatkan
kehamilan dan membantu menghindari perawatan ART yang tak diperlukan,"
lanjutnya seperti dilansir dari livescience, Kamis (6/9/2012).
Menurut
peneliti, seorang wanita dikatakan berada pada puncak masa suburnya
beberapa hari sebelum ovulasi (proses pelepasan sel telur yang telah
matang) atau tepatnya 14 hari sebelum menstruasi. (fn)
Studi ini telah dipublikasikan dalam International Journal of Advanced Nursing.
Portal Kesehatan tentang Health News, Ibu dan Anak, Seksologi, Makanan Sehat, Tips Dan Trik Sehat, Info Herbal dan Obat, Penyakit, dan Konsultasi
Selamat Datang Di Blog Ini, Semoga Informasi Ini Bermanfaat Untuk Anda
Kamis, 06 September 2012
6 Hal Yang Menurunkan Kualitas Sperma

VeHealth.com - Sebelumnya, Anda telah menyimak makanan yang mampu meningkatkan kualitas sperma. Kali ini, buzzfeed.com membeberkan hal-hal yang justru memperburuk kondisi sperma pria. Simak selengkapnya berikut ini.
PonselSebuah penelitian pada tahun 2007 silam menemukan fakta bahwa pria yang menggunakan ponsel empat jam atau lebih dalam sehari menurunkan kualitas sperma mereka. Penelitian selanjutnya menegaskan posisi ponsel sangat mempengaruhi kondisi sperma. Jadi para pria lebih disarankan menyimpan ponselnya di saku baju daripada celana untuk menjaga kualitas sperma.
StresPenelitian lain pada tahun 2008 membuktikan stres juga mampu mempengaruhi kesuburan pria. Jika Anda sering mengalami stres, segera atasi masalah itu agar tidak menurunkan kualitas sperma.
Pil antidepresanPil antidepresan di sini maksudnya adalah obat-obatan seperti Prozac dan Zoloft. Jadi ketika para pria khawatir tentang stres yang mempengaruhi kesuburan, biasanya mereka akan mengonsumsi pil ini. Padahal sebuah penelitian menyebutkan kalau pil antidepresan justru mampu merusak DNA sperma pria.
Lemak jenuhPenelitian lain tentang kualitas sperma yang dilakukan menghasilkan bukti lemak jenuh bersifat buruk pada pria. Sebab lemak jenuh tersebut menurunkan jumlah dan pergerakan sperma. Maka dari itu perhatikan konsumsi lemak jenuh Anda agar tidak terlalu berlebihan dan memberi dampak buruk pada sperma.
GanjaMerokok ganja pun menurunkan kualitas sperma, demikian menurut penelitian pada tahun 2003. Sperma bahkan bisa bergerak terlalu cepat akibat ganja.
Celana dalam ketatSekali lagi dalam sebuah penelitian, celana dalam yang ketat sebaiknya dihindari oleh para pria. Pasalnya celana dalam tersebut membuat kemaluan pria seolah 'terjepit' sehingga mempengaruhi produksi dan kualitas sperma mereka.
Itulah hal-hal yang bisa menurunkan kualitas sperma pada pria. Jika Anda tidak ingin mengalaminya, hindari keenam hal tersebut di atas ya. (ka)
Langganan:
Postingan (Atom)
